“Kringggg.....!!!”
“Assalamualaikum”. Pesan baru
dari Handphone ku, tertulis salam dari pengguna nomor baru. Dan ku jawa “Waalaikumsalam....”.
“Ini maya ya....?”, balasan
sms pun datang menjawab salamku.
Langsung ku balas “Iya. .
.ini me, ne spa ya?”, pesan singkat ku lontarkan kembali kepada pemilik nomor
baru dalam Handphoneku.
Panggilan masuk pun
berdering lewat Handphone ku dengan nomor baru itu. Ku jawab salamnya dan pembicaraan
pun berlangsung dengan ku. Pemilik nomor baru itu adalah seorang pria yang
bernama Andi. Dia mendapatkan nomor teleponku dari Abang angkat ku yang ku
kenal baik selama ini.
Perkenalan baru yang bermula
lewat Handphone membawa aku dan dia akrab. Saling bercerita tentang kehidupan
masing-masing, bercanda bersama meski lewat Handphone.
Pertemuan pun kami
rencanakan di rumahku yang sederhana. Di malam yang cerah dia datang bersama
seorang teman yang menemaninya.
“Assalamualaikum. . . .?”
terdengar dari luar pintu rumahku seseorang mengucap salam seraya mengetuk
pintu rumahku.
“Waalaikumsalam. . .”
jawabku sambil ku buka pintu rumahku.
Seraya tersenyum sopan,
seorang pria berdiri di hadapanku sambil bertanya kepadaku, “Benarkah ini
rumahnya Me?” tanyanya singkat.
“Ya benar, , , Anda siapa dan ada perlu apa
dengan saya?” ku jawab pertanyaannya sambil ku lontarkan pertanyaan balik
kepadanya.
“Saya Andi yang menelpon
Kamu tadi” jawabnya singkat.
“Oh. . . Bang Andi itu ya. .
.?? hmmm. . . .ayo silahkan masuk, kirain siapa tadi.” Jawabku sambil menyuruh
dia dan temannya masuk kedalam rumah.
“Silahkan masuk dan silahkan
duduk,” ku persilahkan lagi kepadanya.
“Iya. . . terima kasih,”
seraya berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah ku.
“Sebentar ya. . .!!” jawabku
sambil ku tinggalkan mereka sejenak di ruang tamu, ku bergegas pergi ke dapur
dan membuatkan 2 gelas teh manis panas dan ku persilahkan kepada mereka.
“Diminum tehnya, , ,tapi
masih panas sangat,” kataku basa-basi.
“Iya terima kasih, , , “
jawab mereka.
“Gimana. . .susah ya nyari
alamat rumah Me?”, tanyaku membuka suasana yang hening.
“Iya. . .sempet juga nyasar
tadi, soalnya belum pernah main-main ke daerah sini,” balasnya.
“Ya. . . begini lah keadaan
rumah Me,”
“Hmmm. . .sunyi ya disini,
kemana semua keluarga Me?” tanya nya kepadaku.
“hmmm.... kalau bapak sama
mamak Me lagi di kamar lihat televisi, adik Me yang pertama lagi keluar latihan
main Band, kalau adik Me yang kedua lagi lihat tv di ruang tengah, sedangkan
kedua kakak Me udah berumah tangga mereka udah tinggal di rumah mereka
masing-masing,” jawabku menjelaskan.
“Oo. . . kirain pada pergi,
soalnya sunyi sih rumahnya.” Katanya balik.
Aku yang memang terkenal
mudah bergaul dengan orang laen dengan mudah bisa membawa suasana menjadi ramai
dan tidak terasa canggung dalam berbicara meskipun baru pertama kali bertemu.
Pembicaran dan canda tawa di ruang tamu membawa kami lupa bahwa kami baru
bertemu, seakan udah lama sangat berkenalan. Nah, , , itu lah sifat pribadi Me
yang mudah membaur dengan orang laen. Tak terasa waktu udah menunjukkan jam 11
malam. Dia dan temannya permisi buat pamit pulang.
“Berhubung sudah malam, kami
pamit pulang dulu ya, laen waktu bolehkan kami main ke rumah Me lagi,? Tanyanya
kepadaku
“Boleh saja atuh bang, , ,”
jawabku dengan gaya bicaraku yang terbilang unik, yang mencampurkan bahasa
daerah laen.
“Ya udah kalo begitu, ,
,Assalamualaikum Meme?” kami pamit pulang, katanya kepadaku sambil bergegas
pulang.
“Waalaikumsalam bang, , ,”
jawabku.
Ku bersihkan ruang tamu ku
yang tadi berantakan. Saat selesai ku bersihkan lalu ku rebahkan tubuhku di
tempat tidur. Tak lama Handphoneku berdering. Sebuah panggilan masuk dari bang
Andi. Ku perhatikan sejenak, lalu ku angkat segera teleponku.
Mei :”Hallo Assalamualaikum Bang.....?” sapaku lewat Handphone.
Bang Andi :”Waalaikumsalam Meme. . .” balasnya.
Mei :”Ada apa bang, , ,? Apa ada yang tertinggal di rumah Me?” tanyaku
heran, karena baru saja mereka beranjak pamit pulang, kemudian Handphoneku
berdering.
Bang Andi :”hmm. . . nggak ada apa-apa kok, Cuma pengen ngobrol aja neh
sambil makan...”
Mei :”Oo. . .kirain ada yang tertinggal di rumah Me, , eh rupanya. .
.rupanya. . .”
Bang Andi :”Heeee. . . nggak apa kan Mei, Bang nelepon neh?”
Mei :”nggak apa atuh Bang. . .”
Bang Andi :”Ternyata bener ya. . . nggak dari Handphone maupun jumpa
langsung, Meme ananknya enak kalau di ajak ngomong gitu, mudah akrab orangnya,”
Mei :”Heeee. . . begini lah Me, Bang, orangnya”
Pembicaraan yang bisa di
bilang ya. . . seperti orang-orang pada umumnya, membawa keramahan tersendiri
bagi siapa yang mengenal diriku. Terkesan tomboy, tapi paling asyik jika diajak
bicara. Semenjak perkenala itu, kami semakin akrab dan semakin sering bertemu. Hingga
pada akhirnya membawaku untuk menemaninya menghadiri sebuah acara pernikahan
temannya. Aku yang biasa tampil dengan gaya ku sendiri kini ku hadir dengan
balutan gaun putih dengan rambut yang sengaja ku tata beda dengan high heel senada dengan gaun yang ku
kenakan. Mungkin yang biasa melihat aku bergaya tomboy, sekarang bisa menjadi
cewek feminim yang benar-benar beda
di malam acara tersebut. Tak dipungkiri juga, dia yang biasa melihat aku langsung
gak percaya saja melihat aku yang sekarang ini.
Bang Andi :”Waw, , , , I like it’s. . .”
Mei :”hmmm. . . apa sihh. . . Jangan diliatin terus, Me jadi gak PeDe atuh”
jawabku dengan muka malu.
Bang Andi :”Ngapain malu. . . beneran lo. . . I Like this. . . sumpah beda banget lo” jawabnya memujiku.
Mei :”Udah ach. . . jangan komen terus, , ,buruan kita pergi ntar kemalaman
“, pintaku.
Bang Andi :”Ya udah yuk . . . tapi entar dulu, Bang pamitan dulu sama orang
tua Me,”
Mei :”Silahkan bang, , , tuh mama ada kok di ruang tengah”
Dalam perjalananku menuju
tempat dimana acara itu di gelar, banyak pembicaraan yang kami lontarkan. Tak khayal
sebuah komentar perubahanku. Dari pertanyaan dan pertanyakan ku menjelaskan
bagaimana diriku ini.
Mei :”Ya, , , seperti bang lihat sekarang ini, Me yang biasanya tampil apa adanya
dengan gaya tomboynya Me, sebenarnya
Me bisa tampil dengan gaya feminim seperti
saat ini, Cuma Me kadang-ladang aja kayak gini, bisa di bilang jika ada iven-iven kayak gini neh, Me kadang
menyesuaikan keadaan sekitar Me, bagaimana berpakaian saat bekerja, di rumah,
kumpul dengan teman, atau pun pergi ke pesta,” kata ku menjelaskan panjang
lebar dengan nya.
Bang Andi :”Tapi beneran. . .Bang jadi PeDe kalau seperi ini, beda banget
lo Me malam ini, sungguh I Like it
banget lo.”
Mei :”Ya makasih bang.”
Akhirnya tiba di tempat
dimana kami tuju. Setiba di sana aku merasa nggak enak banget di lihati oleh
para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. Aku sampai berpikir kalau
ada yang salah dengan diriku hingga banyak yang melihat aku di malam itu. Tapi dia
menyakinkan k kalau gak ada yang salah dengan diriku, itu karena aku tampil
beda dengan lainnya. Mendengar ucapannya kepadaku, aku berusaha nyantai membawa
suasana seperti itu. Dan sukses juga acara menemani dia.
Perkenalan yang singkat itu
akhirnya menumbuhkan rasa di antara kami berdua. Tak bisa di tutupi lagi, cinta
pun tumbuh diantara kami. Hari demi hari kami lalu, semakin lama semakin dekat.
Walau kadang kami tidak sesering bertemu, percakapan lewat Handphone juga bisa mendekatkan kami jauh lebih dekat ketimbang
terus bertemu muka.
Saling mengerti, saling
mengingatkan, saling percaya kami patokan dalam hubungan kami. Keterbukaan satu
sama yang lain juga kami lakukan dengan sikap dewas. Hingga keseriusan di
antara kami ada.
Saat dia kerja, dan
mengharuskan dia tak bisa bertemu denganku, ku menghargainya. Kami saling
mengingatkan satu sama yang lain agar selalu dekat dengan Yang Maha Esa. Itu lah
satu poin dimana aku bisa mencintainya, selain aku bisa deket dengan cintainya,
aku juga bisa mendekatkan diri dengan Yang Maha Esa.
Tapi di perjalanan cintaku
selalu tak semulus dengan hari-hariku yang ku lewati dengan senyum ceria dan
semangat. Aku harus merasakan rasa sakit hati kembali dengan yang namanya
Cinta. Pertemuan dan hubunganku tak secerah awan dan ibarat umur, hanya seumur
jagung. Tanpa alasan yang pasti, ku harus melepaskan cintaku yang telah
bersamaku untuk orang laen. Sungguh cinta yang katanya indah, kini bagai
dongeng di saat malam tiba, dimana yang katanya indah tidak bisa aku rasakan. Kini
diriku tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, ku harus bisa menjadi aku
sebelum atau pun sesudah nya, aku adalah aku. Semogga Allah selalu menuntunku
dan memberikan ku kesabaran dalam menjalani kehidupan aku ini.